Tokoh

Download Free Software Latest Version

Flexslider

    Profil lima pesulap Indonesia

    Menyajikan hiburan di luar nalar merupakan tugas utama dari seorang pesulap. Menakjubkan dan menegangkan merupakan efek yang harus ditimbulkan oleh pesulap. Karena kepandaian si pesulap dalam memainkan trik-triknya, banyak yang mengira sulap merupakan sihir. Para magician harus tahu bagamana agar triknya tidak terbongkar. Di balik semua itu banyak fakta-fakta yang mungkin belum pernah Anda bayangkan sebelumnya. Berikut 5 fakta unik mengenai pesulap di Indonesia.

    1. Romy Rafael
    Soal hipnotis-menghipnotis sudah menjadi ahlinya, sugesti yang ditanamkan ke dalam pikiran orang yang terhipnotis juga dapat membius pikiran para penonton membuat para penonton terlihat antusias saat melihat aksinya. Rommy Raffael tidak pernah membayangkan kalau ia akan menjadi master hipnotis, padahal sejak kecil Rommy ingin menjadi seorang astronot.



    2. Dedy Corbuzier
    Pesulap ini bisa dikatakan master of mater. Di samping keahliannya dalam bidang mentalist, ia juga mampu membengkokkan linggis hanya dengan tatapan matanya. Tapi tahukah Anda kalau master yang satu ini ternyata pernah 2 kali tidak naik kelas semassa SD.



    3. Demian Aditya
    Siapa yang tak kenal sang illusionist yang banyak melakukan aksi menajubkan. Diantara atraksi-atraksinya yaitu: menghilangkan mobil, dikubur hidup-hidup, menembus meja, dan menembus tembok. Demian juga pernah mengalami kecelakaan saat melakukan aksinya dalam acara Gara-Gara Magic TRANS 7. Sebelum terkenal menjadi illusionist, ternyata Demian pernah memenangkan kontes Abang None Jakarta 2006.





    4. Pak Tarno
    Inilah pesulap yang namanya melejit pada saat sekarang ini. Dengan permainan yang sangat sederhana, pak Tarno mampu menghibur jutaan pasang mata saat pertama tampil. Yang sangat unik dari pak Tarno adalah selalu membacakan mantra-mantra tetentu ketika melakukan aksinya, seperti "Bim salabim jadi apaa..?? Prok.. prok.. prookk...!!", atau "Tolong di bantu yaa..??".

    Tahukah Anda, hanya dengan membawa peralatan yang sangat sederhana, pak Tarno memperoleh gelar master of tradisional magic dalam acara The Master RCTI hanya dengan sekali tampil.

    5. Limbad
    Nama ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga Anda. Sudah bosan rasanya bila membahas profil "prince of fakir" ini. Yang perlu Anda ketahui bahwa dibalik penampilannya yang sangat misterius, ternyata Limbad takut sama yang namanya ulat bulu.




    Ganyang Malaysia' yang membakar semangat patriotisme bangsa Indonesia

    Pada 20 Januari 1963, Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Bangsa ini tidak terima dengan tindakan demonstrasi anti-Indonesia yang menginjak-injak lambang negara Indonesia, Garuda.

    Untuk balas dendam, Presiden Soekarno melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato pada 27 Juli 1963.

    Berikut isinya:"

    Kalau kita lapar itu biasa

    Kalau kita malu itu juga biasa

    Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

    Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!

    Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

    Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

    Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

    Yoo...ayoo... kita... Ganjang...

    Ganjang... Malaysia

    Ganjang... Malaysia

    Bulatkan tekad

    Semangat kita badja

    Peluru kita banjak

    Njawa kita banjak

    Bila perlu satoe-satoe!

    Bisa terbakar semangat patriotisme bangsa Indonesia mendengar pidato Soekarno itu. Kedaulatan Indonesia dianggap harga mati bagi Proklamator Republik Indonesia itu.



    Ki Mastanu (Raden Tanujiwa)….

    Ayang ayang gung

    Gung goongna rame

    Menak ki Mastanu

    Nu jadi wadana

    Naha maneh kitu

    Tukang olo-olo

    Loba anu giruk

    Ruket jeung kompeni

    Niat jadi (naek) pangkat

    Katon kagorengan

    Ngantos Kanjeng Dalem

    Lempa lempi lempong

    Ngadu pipi jeung nu ompong

    Jalan ka Batawi ngemplong

    Lagu tersebut merupakan lagu yang secara turun temurun dinyanyikan oleh barudak (anak kecil) di Tatar Sunda. Sekitar tahun 60-an Pa Ekik Barkah, mahasiswa yang tergabung dalam Dewan Kesenian Universitas Padjadjaran, memodifikasinya menjadi suatu bentuk seni pertunjukkan teatrikal dengan nama Kaulinan Urang Lembur.

    Lagu Ayang Ayang Gung tersebut menceritakan seorang tokoh menak (bangsawan) bernama Ki Mastanu yang menjadi wadana (bupati), namun bertingkah olo-olo (belagu), dan karena kedekatannya dengan kompeni (Belanda) banyak masyarakat yang giruk (membencinya). Yang berniat naik pangkat, sehingga menunggui kanjeng dalem, dan dengan segala gerak akrobatik politiknya menghalalkan segala cara, agar langkah politiknya lancar tidak terhambat sedikit pun ke Batavia.

    Lempa lempi lempong ngadu pipi jeung nu ompong, jalan ka batawi ngemplong. Ki Mastanu yang ada dalam lirik lagu Ayang Ayang Gung tak lain adalah Raden Tanujiwa, seorang Sunda asal Sumedang. Tahun 1687 Tanujiwa mendirikan perkampungan di Parung Angsana, sebelumnya beliau mendapat tugas dari Camphuiis untuk membuka hutan Pajajaran. Kampung di Parung Angsana itu kemudian diberi nama Kampung Baru, tempat inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Kabupaten Bogor. Beberapa kampung lain yang didirikan oleh Raden Tanujiwa adalah Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Dimana Kampung Baru menjadi pusat pemerintahannya.

    Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai kepala Kampung Baru dan kampung lainnya yang berada di hulu Ciliwung. De Haan sendiri memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari Raden Tanujiwa (1687-1705) walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik dilakukan tahun 1745. Tahun 1745 sembilan buah kampung digabung menjadi satu pemerintahan dibawah Kepala Kampung Baru bergelar Demang, gabungan kampung itu diberi nama Regentschap. Yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg tahun 1740. Tanujiwa, seorang Sunda dari Sumedang, berhasil membentuk pasukan pekerja untuk membuka hutan Pajajaran. Ketika itu beliau bergelar ”Luitenant der Javanen” (letnan orang-orang Jawa dan merupakan letnan senior diantara teman-temannya). Garis batas antara daerah pemukiman orang-orang Banten dan kompeni ketika pangeran Purbaya dari Banten membangun pemukiman di aliran Cikeas. Daerah antara Kedung Badak sampai Muara Beres telah ditempati pasukan Mataram, pimpinan Bahurekso dan sebagian lagi pasukan kiriman Sunan Amangkurat I.

    Tahun 1661 basis pasukan Rakit Mataram ketika mengepung Batavia. Raden Tanujiwa menghentikan pembukaan lahannya pada sisi utara Ciliwung, dan menyarankan agar pembukaan lahan dilakukan di sebelah hulu (Ciawi dan Cisarua). Kemungkinan besar, tindakan Tanujiwa ini didasari penghargaan yang besar terhadap Pakuan. Lambat laun rasa cinta terhadap Pajajaran dan terhadap masyarakatnya mulai terpupuk, ia mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang dianggap dapat mengganggu kompeni. Apalagi perasaan bencinya terhadap Scipio, yang notabenenya seorang sersan, yang sering memerintah dengan semena-mena padahal jabatan Tanujiwa lebih tinggi (letnan). Hal tersebut menimbulkan kesadaran akan kesamaan nasib sebangsa dalam diri Tanujiwa. Tanujiwa membantu pemberontakan yang dipimpin oleh Haji Perwatasari, dan balik mengangkat senjata melawan kompeni. Walaupun pada akhirnya kalah, dan Tanujiwa dibuang ke Tanjung Harapan (Afsel).

    Karena pemberontakan tersebut, dalam Babad Bogor (1925), yang dibuat pada masa kolonial, tidak mencantumkan nama Tanujiwa sebagai bupati pertama. Dalam Babad tersebut dicantumkan Mentengkara atau Mertakara kepala Kampung Baru yang ketiga (1706-1718) sebagai bupati pertama Bogor. Ia adalah putera Tanujiwa (menurut Den Haan).

    Mungkin itulah sedikit ulasan mengenai Tanujiwa, dan kaitannya dengan kakawihan barudak Ayang Ayang Gung. Tanujiwa mengejar harapan kosong, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan (kekuasaan). Bahkan ia rela menggadaikan harga dirinya kepada penjajah, dan diperlakukan semena-mena oleh orang Belanda yang notabenenya berpangkat lebih rendah. Hingga pada akhirnya Tanujiwa sadar, kemudian bersama-sama mengangkat senjata melawan penjajah.

    Cerita Tanujiwa dalam lirik Ayang Ayang Gung ini sepertinya akan hidup lama di Tatar Sunda, dimana orang-orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Menak yang mendapat kedudukan prestise dalam masyarakat malah seringkali melupakan masyarakat dan sibuk mengejar kekuasaan. Di sisi lain menak ingin dihargai sebagaimana mestinya. Ironi memang, karena itulah yang terjadi.

    Lihat saja perilaku calon wakil rakyat maupun calon pemimpin kita yang tak jarang melakukan perbuatan rendah, suap, money politik, fitnah, nepotisme, anarki. Lempa lempi lempong Ngadu pipi jeung nu ompong Jalan ka Batawi ngemplong Jig paheula heula kainyah..!!!!!



    bahan bacaan :
    -Arsip pribadi
    -komunitas Aleut
    -http://budayabogor.tripod.com/sejarah.htm
    -http://www.opensubscriber.com/message/urangsunda@yahoogroups.com/264969.html

Kuliner